KUBU RAYA, SP - Ada perjumpaan yang lebih dari sekadar reuni dalam Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat di Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Di tengah peringatan 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, kembali bertemu dengan saudara seangkatannya, Pastor Alek Telambanua, OFMCap, yang datang dari Sibolga, Sumatera Utara.
Pertemuan tersebut menjadi bagian kecil dari rangkaian perayaan yang berlangsung khidmat, sekaligus menghadirkan refleksi tentang kesetiaan pada panggilan dan pelayanan kepada sesama.
Keluarga Fransiskan Kalimantan Barat memperingati 800 tahun Transitus Santo Fransiskus melalui Ibadat Transitus yang berlangsung Sabtu (3/10/2026) sore, dilanjutkan Rekoleksi Akbar pada Minggu (4/10/2026).
Ibadat Transitus dipimpin Pastor Pionius Hendi, OFMCap. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi keluarga Fransiskan untuk kembali menghidupi teladan Santo Fransiskus melalui kesetiaan pada panggilan, pelayanan kepada sesama serta kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Transitus merupakan ibadat tahunan keluarga Fransiskan untuk mengenang wafat Santo Fransiskus dari Assisi sekaligus menghidupi kembali teladan dan spiritualitas yang diwariskannya.
Bagi Bruder Stephanus, yang juga Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) dan anggota Komunitas Provinsialat Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, peringatan Transitus bukan sekadar ritual tahunan.
Lebih dari itu, perayaan tersebut menjadi pengingat bagi setiap Fransiskan-Fransiskanes untuk tetap setia pada panggilan dan janji kepada Allah melalui kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian.
“Mengikuti Transitus St Fransiskus dari Assisi dan perayaan Ekaristi Hari Raya St Fransiskus Assisi selalu menyemangati panggilan setiap Fransiskan-Fransiskanes untuk tetap setia meneladani Bapa Serafik Santo Fransiskus dalam menepati janji kepada Allah dalam kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian,” ujar Bruder Stephanus.
Menurutnya, penghayatan terhadap panggilan tersebut tidak cukup hanya diwujudkan dalam kehidupan komunitas, tetapi harus hadir secara nyata dalam pelayanan sehari-hari.
Terutama dalam keberpihakan kepada masyarakat kecil serta kepedulian terhadap lingkungan.
“Itu akan tampak jika setiap pengikut Santo Fransiskus menghidupi serta melaksanakan, yakni melayani sesama terutama wong cilik, serta merawat dan memelihara bumi sebagai rumah kita bersama,” katanya.
Semangat pelayanan itu pula yang selama ini berusaha dihidupi Bruder Stephanus melalui berbagai kegiatan kemanusiaan. Pelayanan tersebut tidak hanya menyentuh komunitas Fransiskan, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang berada di kelompok marginal.
Jejak pelayanan tersebut rupanya sampai pula ke telinga saudara seangkatannya, Pastor Alek Telambanua, OFMCap.
Pastor Alek, yang turut mengikuti Rekoleksi Akbar di Tirta Ria, menyampaikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan Bruder Stephanus selama ini.
Baginya, pelayanan Bruder Stephanus merupakan gambaran konkret bagaimana semangat Santo Fransiskus tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi diterjemahkan dalam tindakan nyata.
“Bruder Steph ini sudah mengaplikasikan contoh teladan Bapa Serafik Santo Fransiskus dengan melayani sesama, terutama kaum marginal. Luar biasa pelayanannya yang saya dengar di Kalbar dan bahkan di luar Kalbar. Ini contoh untuk saudara Kapusin, termasuk saya,” ungkap Pastor Alek.
Bagi Bruder Stephanus, apresiasi tersebut tentu bukan tujuan dari pelayanan. Namun, perjumpaan dengan saudara seangkatan itu menjadi pengingat bahwa panggilan Fransiskan selalu menemukan bentuknya dalam kesetiaan melayani.
Kesetiaan itulah yang kembali diteguhkan dalam Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat yang mengusung tema “Menjadi Peziarah Perdamaian”.
Sekitar 360 saudara-saudari Fransiskan yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang dan Keuskupan Ketapang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Rekoleksi Akbar merupakan kerja sama INFO JPIC Regio Kalimantan dan Keluarga Fransiskan Pontianak (Kefrap).
Setelah Ibadat Transitus pada Sabtu sore, para peserta mengikuti rekreasi bersama. Pada Minggu, kegiatan dilanjutkan dengan dua sesi rekoleksi yang dibawakan Pastor Paulus Toni, OFMCap, sebelum mencapai puncaknya melalui Perayaan Misa Kudus Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan sembilan tarekat, yakni Ordo Kapusin, Missionnaires des Saints Apôtres (MSA), Franciscan Missionary Sisters of the Infant Jesus (FMIJ), Ordo Fransiskan Sekular (OFS), Kongregasi Suster-suster SFD, Kongregasi Suster-suster SFIC, Kongregasi Suster-suster KFS, Kongregasi Suster-suster SMFA dan Kongregasi Bruder MTB.
Misa dipimpin Pastor Mayong Andreas Acin, OFMCap, sebagai selebran utama, didampingi Sekretaris Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Pionius Hendi, OFMCap, tiga imam lainnya serta dua diakon.
Dalam homilinya, Pastor Mayong mengajak umat kembali menghidupi semangat kesederhanaan yang menjadi salah satu ciri utama kehidupan Santo Fransiskus.
Menurutnya, para pengikut Santo Fransiskus dipanggil untuk hidup apa adanya, tidak berpura-pura dan tidak memiliki sikap bermuka dua.
“Lain di bibir, lain di hati. Serigala berbulu domba,” ungkapnya.
Kesederhanaan, kata Pastor Mayong, membuat seseorang berani menampilkan dirinya apa adanya dan tidak berusaha hidup di luar realitas. Kesederhanaan juga mengajak seseorang untuk terbuka dan polos seperti anak kecil.
Semangat kesederhanaan Injili itulah yang mewarnai kehidupan Santo Fransiskus. Ia tidak menaklukkan dunia dengan pedang ataupun argumen yang tajam, melainkan dengan kelembutan Injil.
Bahkan ketika menghadapi penderitaan menjelang akhir hidupnya, Santo Fransiskus tetap menunjukkan sukacita.
Karena itu, umat diajak meneladaninya dengan mengosongkan diri dari kesombongan serta membawa berbagai beban kehidupan kepada Kristus.
“Berat, tambahkan K, jadi BerKat. K adalah Kristus,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang hendak dibawa dalam peringatan 800 Tahun Transitus, bahwa panggilan Fransiskan tidak berhenti pada perayaan, tetapi harus bergerak menjadi kesaksian melalui kehidupan dan pelayanan.
Ketua Panitia Rekoleksi Akbar, Suster Serli, SFIC, menyampaikan terima kasih kepada para provinsial, pimpinan umum dan dewan penasihat tarekat Fransiskan yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada Pastor Paulus Toni, OFMCap, selaku pemateri, Pastor Gatot selaku Direktur Rumah Retret Tirta Ria, para donatur, INFO JPIC Regio Kalimantan serta Kefrap atas kerja sama dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Suster Serli berharap kebersamaan yang terbangun melalui Rekoleksi Akbar dapat terus berkembang dan semakin melibatkan seluruh keluarga Fransiskan yang berkarya di Kalimantan Barat pada kesempatan berikutnya.
Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk membawa sukacita yang diperoleh selama rekoleksi kembali ke komunitas dan tempat pelayanan masing-masing.
“Jangan hal-hal buruk mencuri sukacitamu,” pesannya.
Dalam sambutannya, Pastor Mayong turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh saudara-saudari yang telah meluangkan waktu mengikuti kegiatan serta kepada panitia yang telah mempersiapkannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pastor Pionius Hendi, OFMCap, selaku Ketua INFO JPIC Nasional, atas dukungannya terhadap kegiatan tersebut.
Pastor Mayong berharap pengalaman kebersamaan selama Rekoleksi Akbar tidak berhenti ketika peserta meninggalkan Rumah Retret Tirta Ria, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan dan pelayanan.
“Semoga setelah pulang dari sini, kita menjadi harta benda yang bergerak dan tetap bergerak,” ujarnya.
Bagi Bruder Stephanus, pesan itu menjadi bagian dari perjalanan panjang panggilan yang terus dihidupi. Kesetiaan bukan hanya soal bertahan dalam panggilan, tetapi juga tentang terus bergerak menghadirkan pelayanan, terutama bagi mereka yang kecil, lemah dan terpinggirkan.
Sementara bagi Pastor Alek, perjumpaan kembali dengan saudara seangkatannya menjadi pengingat bahwa teladan Santo Fransiskus dapat ditemukan dalam tindakan sederhana: hadir, melayani dan tetap setia kepada mereka yang membutuhkan.
Rekoleksi Akbar akhirnya menjadi ruang untuk kembali pulang kepada semangat dasar Fransiskan: hidup sederhana, setia pada panggilan, merawat persaudaraan dan menjadikan pelayanan sebagai jalan untuk menghadirkan perdamaian.
Dari Tirta Ria, 800 tahun setelah Transitus Santo Fransiskus, pesan itu kembali diteguhkan. Menjadi peziarah perdamaian berarti terus berjalan, terus melayani dan tetap setia pada panggilan, bahkan ketika perjalanan itu membawa seseorang jauh dari tempat asalnya. (*)